AKU AKAN ERGI
Hawa malam yang menyelimuti tubuhku sayup – sayup
tidak terasa lagi, ku duduk di tepi teras sambil merenungi nasibku, dan menulis
disebuah buku kesayanganku. Ya.. diary namanya. Mencurahkan isi hatiku dan
perasaanku hari ini. Seakan – akan ingin
ku marah kepada tuhan, kenapa harus aku Tuhan, Kenapa? Tidak kah ada yang lain
selain diriku? Owh iya.. Perkenalkan namaku Yuni.
Aku bukanya ingin selalu mengeluh atas takdir yang
diberikan tuhan saat ini, tapi.. ini terlalu sakit untuk aku menerimanya, yang
dimana keluargaku tidak menerima atas sakit yang ku alami saat ini. Iya,,
belakangan ini aku mengalami sakit yang mungkin bisa dibilang parah. “Angina
gangguan jantung” tapi, seakan akan aku dikucilkan oleh keluargaku. Adik yang
sebelumnya sayang kepadaku sekarang sangat membenciku, ibu dan ayahku yang
sebelumnya sangat memperhatikanku, kini sangat marah dan seakan akan tidak
perduli kepadaku, bahkan beliau pernah memarahiku dengan mengatakan “aku
menyesal telah mempunyai anak sepertimu, aku benci punya anak yang sakit –
sakitan”. Sangat syukur, karena masih
ada sahabatku yang bisa mengerti perasaanku, masih bisa menyayangiku.
Angina, gangguan jantung dimana kurangnya asupan
oksigen yang diedarkan melalui pembuluh darah ke jantung. Yang dimana penderita
akan merasa kesakitan, yang biasanya terjadi antara 15 – 30 menit. Yang
puncaknya diantara menit ke 20-25. Akan merasakan sakit yang luar biasa, yang
biasanya akan menjalar sampai ke bahu, rahang, tangan, dan biasanya sampai ke
sebagian tubuh. Dan penderitanya pada saat serangan akan memberhentikan
aktivitasnya. Biasanya akan berakhir seiring berjalanya menit demi menit
berlalu. Dan biasanya terjadi pada orang
dewasa, tapi.. inilah takdir, ini terjadi kepadaku, diusia ku yang masih dini. beginilah keadaanku yang aku alami saat ini,
merasa kesakitan di atas kesedirian, tanpa semangat dari keluargaku. Tanpa
kasih sayang, dan tanpa perhatian. Harusnya aku menyalahkan siapa? Iya.. tidak
ada yang bisa aku salahkan, selain menyalahkan diriku sendiri, aku juga tidak
bisa menyalahkan tuhan atas yang terjadi padaku saat ini, dan aku juga tidak
bisa menyalahkan tuhan mengapa dulu aku dilahirkan kedunia ini.
Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu ku lewati..
Semuanya seakan akan tidak bersahabat denganku, ada
apa sebenarnya? Kenapa aku merasa sangat di kucilkan di dunia ini? Apa karena
penyakit ini ? apa karena aku sangat sering meerepotkan orang, ? Tuhan, jika
seperti ini, bolehkan aku meminta ingin kembali ke asalku, kembali kepadamu,
kembali dimana tempat ku sebelum aku di lahirkan ke dunia ini ? maafkan aku
tuhan, maafkan atas permintaanku ini, “begitu ucapanku, begitu kata hatiku”.
Semuanya rasanya repot karena aku. Karena anak yang
penyakitan ini, karena anak yang tidak diinginkan ini, aku benci diriku, aku
benci hidupku.
Beberapa bulan kemudian…
Semuanya semakin memburuk, apalagi di tambah sakitku
ini, walaupun pada akhirnya aku tau, aku pasti akan mati karena penyakit ini,
memangnya siapa yang mau mendonorkan jantungnya ke aku, ? kecuali orang itu
telah meninggal, dan itupun kalu cocok dengan jantungku, dan kalupun ada
keluarga yang mau mendonorkannya padaku, dan pada akhirnya akan di lakukan
transplantasi jantung kepadaku. Tapi.. ah, aku terlalu berharap, memangnya
siapa yang akan mau melakukanya kepadaku ? kepada manusia yang sakit – sakitan
ini dan merepotkan banyak orang!
Kabar duka datng kepada keluargaku, kabar yang sangat
tidak diinginkan oleh adik dan ibuku, termasuk aku. Ayah.. iya ayahku,, ayahku
menderita gagal ginjal ? kenapa? Aku tidak tau apa sebabnya, yang aku tau,
beliau memeriksakan dirinya seminggu yang lalu dengan ibuku, karena ayahku
merasa sakit dibagian perut kanan bawah. Yang dikira hanya masalah makan saja,
yang pada akhirnya didiagnosa gagal ginjal oleh dokter. Semuanya keluargaku
terpukul karena hal itu, karena gagal ginjal yang dialami ayahku. Yang dimana
harus melakukan cuci darah, yang dalam seminggu nya bisa 2 kali.
Tapi… sejenak ku berfikir..””
Ayahku sakit ? tapi.. banyak yang memperhatikanya,
menyemangatinya, bahkan sampai kelurga besar ini menengoknya pulang, beberapa
yang lainya membantu biaya cuci darahnya. Sedangkan aku ? iya Aku ? kenapa aku
tidak mendapat perlakuan khusus seperti itu? Tidak ada yang memperhatikanku, tidak
ada yang menyayangiku saat ini? Kenapa ini tidak adil ? kenapa ini tidak adil
untukku, kenapa ?
Beberapa minggu kemudian..
Ayah.. iya, ayahku belakangan ini marah – marah
padaku, ibu juga marah padaku, karena apa ? karena biaya obatku, biaya
kontrolku ke dr. dan 2 hari lalu, aku bertengkar dengan kedua orang tuaku, aku
menuntut keadilan ini, aku menuntut perhatianya, aku menuntut kasih sayang nya.
Kenapa ibu dan ayah tidak menyangiku lagi, kenapa ibu
dan ayah tidak memperhatikan ku lagi ‘? Ucapku”
Karena kamu anak yang tidak berguna, karena kamu tidak
akan bisa membahagiakan orang tuamu, karena kamu tidak akan bisa membuat kami
bangga, dan kamu tidak akan berumur panjang, “ucap Ibuku.
“cukuppppp!!!!!. Oke, aku tidak akan menuntut apapun dari ayah
dan ibu, aku tidak akan minta di perhatikan lagi, aku tidak akan minta
diberikan kasih sayang lagi. Iya, aku ini anak yang selalu menyusahkan, anak
yang selalu merepotkan. Dan asal ayah dan ibu tau, kalau seperti ini akhirnya,
aku tidak akan mau dilahirkan. Aku tidak mau dilahirkan kedunia ini” ucapku.
Baguslah.. kalau kamu mengerti juga dan kamu menyadari
? kamu memang tidak pantas dilahirkan, karena kamu hanya bisa menyusahkan orang
lain dan merepotkan ! “ucap ibuku
“lalu.. gimana dengan ayah bu, gimana dengan sakit
yang dialami oleh ayah ? bukanya itu lebih parah dari sakitku, bukankah itu
juga membutuhkan biaya yang sangat banyak, bahkan 2 x lipat dari biayaku. Biaya
berobatku ? “Ucapku.
“berani sekarang kamu, berani sama ayahmu, mau jadi
anak pembangkang kamu ? hah.. ? “ucap ibuku, dan ibu menamparku, menjambak
rambutku, dan seketika itu juga aku meninggalkan ayah dan ibu, berlarri menuju
kamarku. Tapi.. tiba – tiba kepalu sakit, terasa sesak didadaku, dan aku
terjatuh dan pingsan.
Malam hari kemudian..
Ku terbangun, aku mandi, dan aku minum obat, tanpa
sarapan. Menulis di buku harianku, menceritakan atas penyesalanku, menceritakan
atas kejadian hari ini. Terbesit di otakku, harusnya aku tidak berkata seperti
itu pada ibuku, harusnya aku juga tidak ikut marah seperti tu, kasihan ayah,
kasihan ayah kalau sampai ayah depresi jika memikirkan perkantaanku tadi.. maafkan
aku ayah, aku tidak bermaksud membuatku marah karena aku, maafkan aku ibu,
karena aku sudah menjadi anak pembangkang.
Beberapa bulan kemudian..
Berita buruk telah terjadi kepadaku, berita buruk
terjadi pada jantungku, apakah ini akan menjadi akhir dari segalanya, tapi,
semasih aku bisa berdiri, aku tidak akan nyerah gitu aja, pokoknya hal
terpenting kali ini adalah, jangan sampai aku masuk RS lagi, jangan sampai aku
masuk ICU lagi. Tapi… disisi lain, hal buruk juga terjadi pada ayahku, sekarang
ini ginjalnya benar – benar sudah tidak berfungsi lagi, jalan satu – satunya
adalah cuci darah, yang dimana dalam satau minggu bisa 3 – 4 kali cuci darah, dan
bahkan dibutuhkan donor ginjal untuk ayah.. agar hidup ayah tidak bergantung
dengan cuci darah lagi.
Hari ini, adikku telah sedikit berubah kepadaku, dia
mulai bicara kepdaku, dia menanyakan keadaanku. Dan sahabatku, dia selalu ada,
selalu ada di setiap hari – hariku. Teman curhat yang tau semuanya tentangku,
teman curhat yang selalu mengerti keadaanku.
Beberapa minggu telah berlalu dan bebrapa bulan telah
kulewati..
Kondisi jantungku semakin memburuk, apa ini akan
menjadi akhir dari segalanya tuhan ? akhir dari penderitaanku ? tapi, aku masih
ingin hidup, masih ingin melihat indahnya dunia ini, walaupun aku tidak bisa
merasakan keindahanya, aku masih ingin melihat kedua orang tuaku, ingin
melihatnya tersenyum, walupun senyumanya bukan untukku.
Ayah.. ayahku kondisinya semakin mengkwatirkan, bisa
kulihat dari mukanya yang saat ini merasakan kesakitan, walupun aku tidak tau
rasa sakit yang iya rasakan sama seperti rasa sakit yang aku rasakan. Ayah..
lekas sembuh yah, aku sangat menyayangimu, kalau perlu aku mau menggantikanmu.
Sembuhlah yah, sembuhlah.. “ucapku lirih, seraya berdoa kepada Hyang kuasa,
Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Saat ini sedang dicarikanya ginjal yang cocok dengan
ginjal ayahku, semua keluargaku telah diperiksa ginjalnya, apakah ada yang sama
dengan ayah atau tidak, sayangnya.. dua hari setelahnya keputusan lab telah
keluar, yang menyatakan tidak ada ginjal yang cocok dengan ginjal ayah. Ketika
hal ini terjadi semuanya memikirkanku, mekimirkanku karena akulah anggapan
mereka yang cocok ginjalnya dengan ayah, karena menurut keluargaku, aku lah
satu - satu nya anak yang pasti cocok ginjalnya dengan ayah, karena aku sendiri
yang belum memeriksakan diri untuk ini.
Iya.. aku memang akan memberikan ginjalku untuk ayah, tapi ? apakah aku
bisa hidup dengan satu ginjal ? entahlah.. semua ini masih ku fikirkan “gumamku
dalam hati.
11 Agustus 2015
Hari ini, keputusanku sudah bulat, semuanya akan aku
lakukan untuk ayahku, sudah kufikirkan bagaimana nasibku, walupun tidak bisa ku
tentukan.
Kuperiksakan kecocokan ginjalku dengan ginjal milik
ayah, akan ku donorkan ginjalku sebelah untuk ayah, ayah harus sembuh..
Pemeriksaan telah selesai dilakukan, diberikanya
amplop dari pihak lab yang mesti dikonsultasikan dengan dokter. Iya.. ginjalku
cocok dengan ayah, dan itu artinya ? aku bisa mendonorkan ginjalku sebelah
untuk ayah.
Hal yang lain berkata berbeda, kenapa ? karena kata
dr. ginjalku yang satunya telah mengalami tanda – tanda kerusakan “walaupun
belum rusak saat ini, yang pada intinya akan rusak pada akhirnya, ini di
akibatkan obat yang selalu aku konsumsi setiap harinya, yang pada akhirnya aku
akan mengalami gagal ginjal juga, ketika ginjalku telah jenuh dengan obat –
obatan yang selama ini selalu masuk kedalamnya.
Intinya, sudah ku putuskan, bagaimana pun caranya,
ayah harus sembuh, ku katakan kepada dr. “aku akan tetap mendonorkan ginjalku
untuk ayahku, bagaimanapun caranya ayahku harus sembuh dok, “ucapku
“tapi, jika itu kamu lakukan, kerja ginjalmu yang
satunya akan semakin berat, karena kedua ginjalmu masih tetap utuh sudah
mendakan adanya kerusakan,”
“tapi dr. saya ingin ayah saya sembuh dok, itu hanya
bisa dilakukan jika saya mendonorkan ginjal
saya. “ Ucapku
“iya, saya mengerti, tapi, jika saya melakukan
transplantasi ginjal kamu ke ayah kamu, sama saja artinya saya membunuh kamu,
apalagi jika itu dilakukan sangat sulit pertimbanganya, karena jantung kamu
bermasalah “
“tapi, dok.. keputusan saya sudah bulat, saya akan
mendonorkan kedua ginjal saya, karena saya yakin, umur saya tidak akanlah bisa
panjang lagi, dan pada akhirnya ginjal saya akan rusak juga kan ? jadi lebih
baik di cangkok kan untuk ayah saya, dari pada keluarga saya mengalami nya yang
kedua kalinya. “
“oke, iya.. saya akan melakukanya, untuk jadwalnya
kapan akan dilakukan, akan saya beritahu selanjutnya, tapi ketika terjadi apa –
apa terhadapmu, apa yang harus saya lakukan ? siapa yang akan bertanggung jawab
? karena kemungkinan kecil saya rasa kamu selamat dalam operasi ini.
“dokter tidak perlu bertanggung jawab, saya tidak akan
menyalahkan dokter atas apa yang terjadi nanti pada saya, kalau perlu dr. bisa
membuatkan surat pernyataan pertanggung jawaban”.
“baiklah, jika itu keputusanmu, jadwal operasinya akan
saya beritahu nanti,”.
Keesokan harinya…
Semuanya kulihat tersenyum diruangan ayahku, ketika
aku datang semuanya menunjukkan sikap tidak sukanya kepadaku, terutama ibuku,
“ngapain kamu kesini lagi, apakah kamu senang jika
ayahmu kamu fikir akan mati, ah… tidak semudah itu. Telah ada pendonor yang mau
mendonorkan ginjalnya untuk ayah, bahkan keduanya sekaligus. Seseorang itu
memang berhati malaikat.”
“andai ibu tau kalau itu aku, apa aku akan disayangi
dan diperhatikan? apa aku akan diberi penghargaan”?.
Beberapa jam sebelum operasi pencangkokan dilakukan,
aku menulis sebuah surat untuk semua orang, untuk keluargaku. Entahlah… aku
berfikir aku akan meninggalkan mereka selama – lamanya. Rasanya aku sudah sangat
lelah, capek menjalani semuanya ini. Surat ini kutitipkan kepada sahabatku, dan
akupun berangkat menuju RS untuk melakukan transplantasi.
Seminggu kemudian…
Akhirnya.. kamu sembuh yah, sekarang kamu akan
menjalani hidup normal lagi, tidak perlu melakukan cuci darah lagi. “ucap ibu.
Bu, ibu lihat kakak ndak, dari seminggu ini kakak ndak
ada kelihatan, kakak kemana ya bu, apa kakak main kerumah temenya.. ? “ucap
adikku
“biarin aja, ibu gak peduli sama kakakmu lagi, mati
sekalian juga gak kenapa, ngapain ngurusin orang gak berguna kayak gitu bisanya bikin susah aja. “ucap
ibu.
Datanglah sahabatku dengan membawa sepucuk surat,
Om, tante, selamat siang.. ini ada surat dari yuni..
untuk om, dan tante.. dengan rada penasaran, ibu pun membacakan surat itu..
Untuk semua orang yang sangat aku sayang.. apa kabar
semuanya, pasti baik – baik ya, owh iya.. gimana kabar ayah ? pasti udah sembuh
sekarang, udah sehat.. semoga dengan ginjalku papa gak cuci darah lagi yah..
Saat kalian baca surat aku, mungkin aku udah ndak disini lagi, akui
mungkin udah jauh, jauh ke tempat yang selalu aku inginkan.
Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yang merepotkan
kalian, tidak akan ada lagi yang merasa susah karena aku, dan yang pasti ibu sama
ayah tidak perlu marah – marah lagi karena biaya berobatku.
Dulu, ketika aku masih disayang sama ibu, aku punya
angan. Aku punya cita – cita. dan aku punya mimpi. Tapi,, ketika penyakit itu menghampiriku, aku
mulai menyesal atas cita – citaku, yang tidak mungkin akan terwujud. Ya.. aku
punya angan - angan, cita – citaku mimpi - mimpiku telah hancur.. telah kandas
karena sakit ini. Sakit yang tidak pernah ku inginkan, sakit yang membuat aku
dibenci keluargaku, sakit yang sangat membuat aku menderita dalam kesakitan
tanpa semangat dari kalian.
Tapi… hari ini sakit ini tak kurasakan lagi, sakit ini
telah pergi bersama hilangnya aku, yang tidak kalian inginkan ini, yang ibu
sesali karena telah melahirkanku.
Maafkan aku bu, maafkan aku yah, dan semuanya maafkan
aku, maafkan aku karena telah membuat kalian marah dan repot selama ini.
Selamat tinggal ayah, selamat tinggal ibu. Dan selamat tinggal semuanya. Dan hari ini rasanya hari ulang tahunku yang
spesial ya, tidak ada perkataan kalian yang buruk terhadapku lagi. Selamat
tinggal..
Seraya dr. pun datang dan memberikan kabar atas
kepergian yuni.
Isak tangis menyelimuti keluarga ini, isak tangis penuh penyesalan, dan yuni dengan ketidak adilan dan perhatian serta kasih sayang keluarga ini, isak tangis menyelimutinya. Walaupun begitu penyesalan selalu datang belakangan, yuni telah pergi untuk selama – lamanya.
Isak tangis menyelimuti keluarga ini, isak tangis penuh penyesalan, dan yuni dengan ketidak adilan dan perhatian serta kasih sayang keluarga ini, isak tangis menyelimutinya. Walaupun begitu penyesalan selalu datang belakangan, yuni telah pergi untuk selama – lamanya.
Selesai...