BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Catur Marga Yoga
“Bhadram no api vataya mano daksam uta
kratum, adha te sakhye andhaso vi vo made ranam gavo na yavase vivaksase”.
Terjemahannya
adalah :
“Berikanlah kami pikiran yang baik dan
bahagia, berikanlah kami keterampilan dan pengetahuan. Maka semoga manusia
dalam persahabatan-mu merasa bahagia, ya Tuhan! seperti sapi di padang rumput.
Engkau yang Maha Agung”. (Rg Veda X25. 1)
Catur marga berasal dari dua kata yaitu
catur dan marga. Catur berarti empat dan marga berarti jalan/cara atapun
usaha. Jadi catur marga adalah empat jalan atau cara umat Hindu
untuk menghormati dan menuju ke jalan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang
Hyang Widhi Wasa. Catur Marga juga sering disebut dengan Catur Marga
Yoga. Sesungguhnya kata yoga, dapat juga berarti masuk atau menyatukan
diri, sehingga Catur Marga Yoga dapat pula diartikan empat jalan untuk
menyatukan diri dengan Tuhan untuk mencapai moksa. Keempat jalan ini memiliki
nilai yang sama namun menjadi sangat utama apabila didasari dengan kesungguhan
hati dan Sradha yang mantap. Keempat jalan itu adalah Bhakti Marga Yoga, Karma
Marga Yoga, Jnana Marga Yoga, dan Raja Marga Yoga. Sumber ajaran catur marga
ada diajarkan dalam pustaka suci Bhagawadgita, terutama pada trayodhyaya
tentang karma yoga marga yakni sebagai satu sistem yang berisi ajaran yang
membedakan antara ajaran subha karma (perbuatan baik) dengan ajaran asubha
karma (perbuatan yang tidak baik) yang dibedakan menjadi perbuatan tidak
berbuat (akarma) dan wikarma (perbuatan yang keliru). Karma memiliki dua makna
yakni karma terkait ritual atau yajna dan karma dalam arti tingkah perbuatan.
Kedua, tentang bhakti yoga marga yakni menyembah Tuhan dalam wujud yang abstrak
dan menyembah Tuhan dalam wujud yang nyata, misalnya mempergunakan nyasa atau
pratima berupa arca atau mantra. Ketiga, tentang jnana yoga marga yakni jalan
pengetahuan suci menuju Tuhan YangMaha Esa, ada dua pengetahuan yaitu jnana
(ilmu pengetahuan) dan wijnana (serba tahu dalam penetahuan itu). Keempat,
Raja Yoga Marga yakni mengajarkan tentang cara atau jalan yoga atau meditasi
(konsentrasi pikiran) untuk menuju Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
B. Bagian – Bagian Catur
Marga Yoga
Di dalam ajaran kerohanian
Hindu terdapat jalan untuk mencapai kesempurnaan, yaitu moksa, dengan
menghubungkan diri dan pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
disebut dengan Catur Marga Yoga. Catur marga yoga terdiri dari empat bagian
yaitu bhakti marga yoga, jnana marga yoga, karma marga yoga dan raja marga
yoga.
a) Bhakti
Marga Yoga
Kata Bhakti berarti menyalurkan
atau mencurahkan cinta yang tulus dan luhur kepada Tuhan, kesetiaan kepadaNya,
perhatian yang sungguh-sungguh untuk memujanya. Kata Marga berarti jalan atau
usaha, sehingga Bhakti Marga Yoga adalah jalan pengabdian kepada Ida Sang Hyang
Widhi melalui cinta kasih yang luhur dan mulia.
Seorang Bhakta (orang yang menjalani
Bhakti marga) dengan sujud dan cinta, menyembah dan berdoa dengan pasrah
mempersembahkan jiwa raganya sebagai yadnya kepada Sang Hyang Widhi. Cinta
kasih yang mendalam adalah suatu cinta kasih yang bersifat umum dan mendalam
yang disebut maitri. Semangat tat twam asi sangat subur dalam hati sanubarinya.
Cinta bhaktinya kepada Hyang Widhi yang
sangat mendalam, itu juga dipancarkan kepada semua makhluk baik manusia binatang
juga tumbuh-tumbuhan. Dalam doanya selalu menggunakan pernyataan cinta dan
kasih sayang dan memohon kepada Hyang Widhi agar semua makhluk tanpa kecuali
selalu berbahagia dan selalu mendapat anugrah termulia dari Hyang Widhi. Jadi
untuk lebih jelasnya seorang bhakta akan selalu berusaha melenyapkan
kebenciannya kepada semua makhluk sebaliknya ia selalu berusaha memupuk dan
mengembangkan sifat-sifat maitri, karuna, mudita dan upeksa (catur paramita).
Di
dalam kitab suci Veda kita jumpai beberapa mantra tentang Bhakti salah satunya
adalah:
“Arcata
prarcata priyam edhaso Arcata, arcantu putraka uta puram na dhrsnvarcata”
Rgveda VIII.69.8)
(pujalah, pujalah Dia sepenuh hati, Oh
cendekiawan, Pujalah Dia. Semogalah semua anak- anak ikut memuja- Nya, teguhlah
hati seperti kukuhnya candi dari batu karang untuk memuja keagungan- Nya).
Kemudian, dalam ajaran Agama
Hindu juga dikenal 2 bentuk bhakti yaitu:
1) Aphara
Bhakti, merupakan bhakti yang dilakukan melalui pemujaan atau persembahan
dengan berbagai permohonan. Dan permohonan itu wajar mengingat keterbatasan
pengetahuan kita. Namun, permohonan yang dimaksudkan itu wajar dan tidak
berlebihan.
2) Parabhakti,
merupakan bhakti yang dilakukan melalui pemujaan atau persembahan dengan rasa
tulus iklas, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Penyerahan diri sepenuhnya kepadaNya bukanlah dalam pengertian pasif tidak mau
melakukan aktivitas, tetapi ia aktif dan dengan keyakinan bahwa bila bekerja
dengan baik dan tulus niscaya akan memperoleh pahala yang baik pula.
Dalam pustaka hindu, diuraikan
beberapa jenis bentuk bhakti yang disebut “Bhavabhakti”, sebagai berikut:
1. Santabhava adalah
sikap bhakti seperti bhakti atau hormat seorang anak terhadap ibu dan bapaknya.
2. Sakyabhava adalah
bentuk bhakti yang meyakini Hyang Widhi, manifestasiNya, Istadewata sebagai
sahabat yang sangat akrab dan selalu memberikan perlindungan dan pertolongan
pada saat yang diperlukan
3. Dasyabhava adalah
bhakti atau pelayanan kepada Tuhan seperti sikap seorang hamba kepada
majikannya.
4. Vatsyabhava adalah
sikap seorang penyembah atau memandan Tuhan seperti anaknya sendiri.
5. Kantabhava adalah
seorang penyembah atau bhakta seperti sikap seorang istri terhadap suami
tercinta.
6. Madhuryabhava adalah
bentuk bhakti sebagai cinta yang amat mendalam dan tulus dari seorang bhakta
kepada Tuhan.
Gejala-gejala dari adanya Bhakti Marga adalah:
a. Kerinduan
untuk bertemu kepada yang dipujanya
b. Keinginan
untuk berkorban
c. Keingingan
untuk menggambarkan
d. Melenyapkan
rasa takut
e. Melahirkan
rasa seni
f. Melahirkan
rasa terharu
g. Melahirkan
mitologi
Seseorang yang menjalani Bhakti
Marga disebut Bhakta, sikapnya selalu merasa puas dalam segala-galanya, baik
dalam kelebihan dan kekurangan. Sikapnya yang tenang dan sabar membawanya pada
keseimbangan batin yang sempurna, seorang Bhakta akan selalu mengembangkan
sifat Catur Paramitha yaitu Maitri, Karuna, Mudita dan Upeksa. Selain itu,
seorang bhakta akan selalu membebaskan diri dari keangkuhan (ahamkara)
dan tidak ada ikatan sama sekali terhadap apapun karena seluruh
kekuatannya dipakai untuk memusatkan pikiran kepada Hyang Widhi.
b) Karma
Marga Yoga
Karma Marga Yoga adalah jalan
atau usaha untuk mencapai kesempurnaan atau moksa dengan perbuatan dan bekerja
tanpa pamrih. Dalam Bhagawadgita tentang Karma Yoga dinyatakan sebagai berikut:
Tasmad asaktah satatam karyam
karma samcara, asakto hy acaran karma param apnoti purusah. (Bhagawadgita III.
19)
Artinya:
Oleh karena itu, laksanakanlah
segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat pada hasilnya, sebab dengan
melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya
akan mencapai yang utama.
Pada hakikatnya seorang karma
yogi selalu mendambakan pedoman rame inggawe sepi ing pamrih.
dengan menyerahkan keinginannya akan pahala yang berlipat ganda. Hidupnya akan
berlangsung dengan tenang dan dia akan memancarkan sinar dari tubuhnya maupun
dari pikirannya. Bahkan masyarakat tempat hidupnya pun kana menjadi bahagia,
sejahtera, ia akan mencapai kesucian batin dan kebijaksanaan.
c) Jnana
Marga Yoga
Jnana artinya, kebijakan filsafat (pengetahuan).
Yoga berasal dari urat kata Yuj artinya, menghubungkan diri.
Jadi, Jnana Marga Yoga artinya mempersatukan jiwatman dengan paramatman yang
dicapai dengan jalan mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat pembebasan diri
dari ikatan-ikatan keduniawian. Tiada ikatan yang lebih kuat daripada Maya, dan
tiada kekuatan yang lebih ampuh daripada Yoga untuk membasmi ikatan-ikatan Maya
itu. Untuk melepaskan ikatan-ikatan kita harus mengarahkan segala pikiran kita
dan memaksanya kepada kebiasaan-kebiasaan suci. Akan tetapi, bila kita ingin
member suatu bentuk kebiasaan suci pada pikiran kita, akhirnya pikiran harus
menerimanya. Sebaiknya bila pikiran tidak mau menerimanya maka haruslah kita
akui bahwa segala pendidikan yang kita ingin biasakan itu tidak ada gunanya.
Jadi proses pertumbuhan merupakan hal yang mutlak, sebagai jalan tumbuhnya
pikiran, perbuatan lahir, pelaksanaan swadharma, dan sikap batin (wikrama)
sangat diperlukan dimana perbuatan lahir adalah penting, karena jika tidak
berbuat maka pikiran kita tidak dapat diuji kebenarannya. Perbuatan lahir
menunjukkan kualitas sebenarnya dari pikiran kita. Ada tiga hal yang penting
dalam hidup ini yaitu kebulatan pikiran, pembatasan pada kehidupan sendiri, dan
keadaan jiwa yang seimbang atau tenang maupun pandangan yang kokoh, tentram,
dan damai. Ketiga hal tersebut di atas merupakan Dhyana yoga. Untuk
tercapainya perlu dibantu dengan Abhyasa,yaitu latihan-latihan
dan vairagya yaitu keadaan tidak mengaktifkan diri. Kekuatan
pikiran kita lakukan saat kita berbuat apa saja, dan pikiran harus kita
pusatkan kepada-Nya. Dalam urusan-urusan keduniawian pemusatan ini mutlak diperlukan.
Hal ini bukan hanya diperlukan untuk sukses di dunia, tetapi juga dibutuhkan
untuk kemajuan spiritual atau batin. Usaha untuk menjernihkan kegiatan kita
sehari-hari ialah kehidupan rohani. Apapun yang kita laksanakan, berhasil atau
tidaknya tergantung kepada kekuatan pemusatan pemikiran kita kepada-Nya. Inilah
kelebihan Jnana Marga (jalan ilmu pengetahuan) dibandingkan dengan marga-marga
lainnya. Dengan dikuasainya ilmu pengetahuan, manusia dapat bekerja lebih
efektif dan efisien, dibandingkan dengan mereka yang dungu dan sedikit
pengetahuannya, baik itu masalah pengetahuan duniawi ataupun pengetahuan
tentang agama, karena ilmu pengetahuan itulah yangakan menuntun manusia menuju
ke jalan yang benar untuk mencapai tujuan akhir. Maka dari itu, kejarlah ilmu
pengetahuan terlebih dahulu sebanyak dan seluas mungkin.
d) Raja
Marga Yoga
Raja Marga Yoga adalah suatu
jalan mistik (rohani) untuk mencapai moksa, raja marga yoga mengajarkan
bagaimana mengendalikan indria-indria dan vritti mental atau gejolak pikiran
yang muncul dari pikiran melalui tapa, brata, yoga dan semadhi. Tapa dan brata
merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi atau nafsu yang ada dalam
diri kita kearah yang lebih positif sesuai dengan petunjuk ajaran kitab suci.
Sedangkan yoga dan semadhi adalah latihan untuk menyatukan atma dengan Brahman
dengan melakukan meditasi atau pemusatan pikiran.
Adapun tiga jalan pelaksanaan
yang ditempuh oleh para raja Yogin yaitu melakukan Tapa, Brata, Yoga, dan
Samadhi. Tapa dan Brata merupakan suatu latihan untuk mengendalikan emosi atau
nafsu dengan petunjuk ajaran kitab suci. Sedangkan Yoga dan Samadhi adalah
latihan untuk dapat menyatukan atman dengan Brahman dengan melakukan meditasi
atau pemusatan pikiran.
3. Implementasi
dari ajaran Catur Marga Yoga
a. Bhakti
Marga Yoga
Ø Pelaksanaan
tri sandya dan yadnya sesa. Jalan yang
utama untuk memupuk perasaan bakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan
hati yang tulus ikhlas dengan melaksanakanTri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari yaitu pagi, siang, dan sore hari
serta melaksanakan yadnya sesa/ ngejot setelah memasak. Dalam kehidupan
sehari-hari sebagai upaya dalam mewujudkan rasa bhakti sekaligus mendekatkan
diri kehadapan-Nya hendaknya melaksanakan puja tri sandya tersebut
dengan tulus dan ikhlas.
Ø Pelaksanaan
pada hari-hari keagamaan
Implementasi bhakti marga yoga
juga dapat dilihat pada hari-hari keagamaan hindu, seperti hari saraswati,
tumpek wariga dan tumpek uye. Hari saraswati adalah hari turunnya ilmu
pengetahuan dengan memuja dewi yang dilambangkan sebegai ilmu pengetahuan yaitu
Dewi saraswati. Hari saraswati ini jatuh pada hari Saniscara UmanisWatugunung
dan diperingati setiap 210 hari. Pada hari ini semua pustaka terutama Wedadan
sastra-sastra agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi
Saraswati untuk diberikan suatu upacara.
Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi
Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah hari. Dari
pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang
menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati
dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan biasa,
setelah tengah hari dapat membacadan menulis. Bahkan di malam hari dianjurkan
melakukan malam sastra dan sambaing samadhi. Sedangkan Tumpek Wariga
merupakan upacara untuk menghormati keberadaan tumbuh-tumbuhan sebagai mahluk
hidup didunia atau dikenal dengan istilah “ngotonin sarwa entik-entikan”. Sementara Tumpek Uye atau Tumpek Kandang upacara
dalam menghormati keberadaan hewan atau binatang yang hidup di
dunia yang sering dikenal dengan istilah
“ngotonin sarwa ubuhan”. Keduanya jatuh tepat setiap 210 hari dalam perhitungan
hindu. Dalam konsep Tri Hita Karana penghormatan kehadapan ida sanghyang widhi wasa atas pengadaan hewan dan tumbuhan
ini dilakukan dengan tulus dan iklas. Dengan kata lain melaksanakan
upacara tumpek ini adalah realisasi dari konsepTri Hita Karana alam kehidupan.
Jika semua itu sudah kita lakukan dengan rasa tulusdan iklas berarti
kita telah melaksanakan ajaran bhakti marga yoga.
b. Jnana Marga Yoga
ü Ajaran
brahmacari
Brahmacari adalah mengenai masa
menuntut ilmu dengan tulus ikhlas. Tugas pokok kita pada massa ini adalah
belajar dan belajar. Belajar dalam arti luas, yakni belajar dalam pengertian
bukan hanya membaca buku. Tetapi lebih mengacu pada ketulus iklasan dalam segala
hal. Contohnya: rela dan iklas jika dimarahi guru atau orang tua. Guru
dan orang tua, jika memarahi pasti demi
kebaikan anak. Maha Rsi Wararuci dalam Kitab Sarassamuccaya, sloka
27 mengajari kita memanfaatkan masa muda ini dengan sebaik- baiknya, yang
beliau umpamakan seperti rumput ilalang yang masih muda. Bahwa masa muda itu
pikiran masih sangat tajam, hendaknya digunakan untuk menuntut dharma,
dan ilmu pengetahuan. Dengan tajamnya
pikiran seorang anak juga bisa meyadnyakan tenaga dan pikirannya
itu.
ü Ajaran
aguron-guron
Ajaran aguron-guron merupakan
suatu ajaran mengenai proses hubungan guru dan murid . Namun istilah dan proses
ini telah lama dilupakan karena sangat susah mendapatkan guru yang mempunyai kualifikasi tertentu dan juga sangat
sedikit orang menaruh perhatian dan minat terhadap hal ini. Maka untuk memenuhi
kualifikasi tertentu, hendaknya seorang guru mencari sekolah yang mempunyai
kurikulum yang membawa kesadaran kita melambung tinggi melampaui
batas-batas senang dan sedih, bahagia dan derita, lahir danmati. Maka guru seperti itu pasti akan datang
kepada kita. Menuntun kita, menentukan arah tujuan kita, menunjukkan cara dan
metodenya, menghibur dan menyemangatinya. Jangan ragu, pasti akan
ada guru yang datang kepada kita.
ü Ajaran
catur guru
Berhasilnya seseorang menempuh
jenjang pendidikan tertentu (pendidikan tinggi yang berkualitas) tidak akan mungkin bila kita tidak memiliki rasa bhakti
kepada Catur Guru. Mereka yang melaksanakan ajaran Guru Bhakti sejak dini
(anak-anak), mereka pada umumnya memiliki disiplin diri dan percaya
diri yang mantap pula. Dengan disiplin diri dan percaya diri yang mantap, tidak
saja akan sukses dalam bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai aspek
kehidupan. Di sinilah kita melihat ajaran Catur Guru Bhakti senantiasa relevan
sepanjang masa, sesuai dengan sifat agama Hindu yang Sanatana Dharma.
Aktualisasi ajaran Guru Bhakti atau rasa bhakti kepada Catur Guru dapat
dikembangkan dalam situasi apapun, sebab hakekat dari ajaran ini adalah untuk pendidikan diri, utamanya
adalah pendidikan disiplin, patuh dan taat kepada sang Catur Guru dalam
arti yang seluas-luasnya.
c. Karma Marga Yoga
ü Ngayah
dan Matatulungan
Ngayah merupakan suatu istilah
yang ada di Bali yang identik dengan gotong royong. Ngayah ini bisa dilakukan di pura-pura dalam hal
upacara keagamaan, seperti odalan-odalan/karya. Sedangkan matulungan ini bisa
dilakukan terhadap antar manusia yang mengadakan upacara keagamaan pula,
seperti upacara pawiwahan, mecaru dan lain sebagainya. Sesuai
dengan ajaran karma yoga, maka hendaknya ngayahatau matatulungan ini dilakukan secara iklas tanpa ada ikatan apapun.
Sehingga apayang kita lakukan bisa memberikan suari manfaat.
ü Mekarme
sane melah Mabuat baik atau mekarma sane melah hendaknya
selalu kita lakukan. Dalam dalam agama hindu ada slogan
mengatakan“Rame ing gawe sepi ing pamrih”, slogan itu begitu melekat pada diri
kita sebagai orang Hindu. Banyaklah berbuat baik tanpa pernah berpikir dan
berharap suatu balasan. Niscaya dengan begitu kita akan selalu mendapat karunianya
tanpa pernah terpikirkan dan kita sadari. Untuk melaksanakan slogan itu dalam
kehidupan sehari-hari tidaklah mudah untuk memulainya. Sebagai makhluk ciptaan
Brahman, sepantasnya kita menyadari bahwa sebagian dari hidup kita adalah untuk
melayani. Berkarma baik itu adalah suatu pelayanan. Kita akan ikut
berbahagia bila bisa menyenangkan orang lain. Hal ini tentudibatasi oleh
perbuatan Dharma. Slogan “Tat Twam Asi” adalah salah satu dasar
untuk ber-Karma Baik. Engkau adalah Aku, Itu adalah Kamu juga. Suatu
slogan yang sangatsederhana untuk diucapkan,
tapi memiliki arti yang sangat mendalam, baik dalam arti pada
kehidupan sosial umat dan juga sebagai diri sendiri/individu yang
memiliki pertanggungjawaban karma langsung kepada Brahman.
ü Ajaran
Karma pahala
Karma phala merupakan hasil
dari suatu perbuatan yang dilakukan. Kita percaya bahwa perbuatan yang
baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha
karma) membawa hasil yang buruk. Seseorang
yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian
pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya.
Karmaphala memberi keyakinan kepada kitauntuk mengarahkan segala tingkah laku
kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita-
cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.
Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam
hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah surga. Sebaliknya
bila hidupnya selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang terjadi. Dalam
pustaka- pustaka dan ceritera-ceritera keagamaan dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam
kebahagiaan, alam yang indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman,
tempat roh atau atman mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama
masa hidupnya. Selesai menikmatiSurga atau neraka, roh atau atma
akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaankembali sebagai karya penebusan
dalam usaha menuju Moksa.
d. Raja
Marga Yoga
Setiap pengikut Raja Marga Yoga
akan dapat menghubungkan dirinya dengan kekuatan rohaninya melalui Astangga
Yoga. Astangga Yoga adalah delapan tahapan yoga untuk mencapai moksa. Astangga
Yoga diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali dalam bukunya yang disebut dengan Yoga
Sutra Patanjali. Adapun bagian-bagian dari Astangga Yoga yang merupakan
implementasi dari ajaran Raja Marga adalah:
a. Yama
Yama yaitu
bentuk larangan atau pengendalian diri yang harus dilakukan oleh seorang dari
segi jasmani, misalnya dilarang membunuh (ahimsa), dilarang berbohong (satya),
pantang menginginkan sesuatu yang bukan miliknya (asteya), pantang melakukan
hubungan seksual (brahmacari) dan tidak menerima pemberian dari orang lain
(aparigraha).
b. Nyama
Nyama yaitu
bentuk pengendalian diri lebih bersifat rohani, misalnya Sauca (tetap suci
lahir batin), Santosa (selalu puas dengan apa yang datang), Swadhyaya
(mempelajari kitab-kitab keagamaan) dan Iswara pranidhana (selalu bhakti kepada
Tuhan).
c. Asana
Asana yaitu
sikap duduk yang menyenangkan, terartur dan disiplin.
d. Pranayama
Pranayama yaitu mengatur napas sehingga menjadi sempurna melalui tiga
jalan yaitu puraka (menarik napas), kumbhaka (menahan napas) dan recaka
(mengeluarkan napas).
e. Pratyahara
Pratyahara yaitu mengontrol dan mengendalikan indriya dari ikatan
objeknya, sehingga orang dapat melihat hal-hal suci.
f. Dhyana
Dharana yaitu pemusatan pikiran yang tenang, tidak tergoyahkan
kepada suatu objek. Dhyana dapat dilakuakan terhadap Ista Dewata.
g. Dharana
Dharana yaitu usaha-usaha untuk
menyatukan pikiran dengan sasaran yang diinginkan
h. Samadhi
Samadhi yaitu penyatuan atman (sang diri sejadi dengan Brahman) bila
seseorang melakukan latihan yoga dengan terartur dan sungguh-sungguh maka ia
akan mendapat etaran-getaran suci dari wahyu Tuhan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa Catur Marga yoga tediri dari kata Catur berarti empat dan
marga berarti jalan/cara atapun usaha. Catur marga yoga merupakan 4 jalan
mencapai moksa yang dapat dilakukan dengan jalan Bhakti Marga Yoga, Karma Marga
Yoga, Jnana Marga Yoga, dan Raja Marga Yoga. Dalam hal ini manusia dibebaskan
untuk memilih jalan yang mana ingin dikehendaki asalkan dengan perasaan yang tulus
iklas agar pencapaian moksa dapat diraih dengan sempurna.
Untuk
mencapai moksa dapat dilakukan dengan Bhakti Marga Yoga, Jnana Marga Yoga,
Karma Marga Yoga, dan Raja Marga Yoga.
B. Saran
Catur marga yoga ini merupakan salah satu cara
atau jalan terbaik untuk mendekatkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Oleh karena itu, kita sebagai umat Hindu hendaknya melaksanakan ajaran Catur
Marga Yoga dengan hati yang iklas, sehingga kualitas kehidupan kita akan lebih
meningkat dan cenderung kea arah yang lebih baik untuk menuju jalan kebenaran.
DAFTAR PUSTAKA
Pendit, Nyoman S. 1996. Hindu
Dharma Abad XXI. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.
Kirit Patel dan Vijay C. Amin.
1999. Karma Yoga. Jakarta: Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia.
Praptini, dkk. 2004. Buku
Pelajaran Agama Hindu. Surabaya: Paramita
Pidarta, Made. 2005. Hindu
Untuk Masyarakat Umum Pada Jaman Pasca Modern. Surabaya: Paramita.
