Jumat, 04 Maret 2016

HIPNOTIKA SEDATIFA

HIPNOTIKA DAN SEDATIVA

Pengertian
          Hipnotika atau obat tidur berasal dari kata hypnos yang berarti tidur, adalah obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi dapat mempertinggi keinginan tubuh normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur. Sedangkan sedativa adalah obat yang menimbulkan depresi ringan pada SSP tanpa menyebabkan tidur, dengan efek menenangkan dan mencegah kejang-kejang.
          Setiap mahluk hidup memerlukan waktu tidur yang cukup berkisar antara 6 sampai 8 jam guna mencegah timbulnya pengaruh yang merugikan karena kurang tidur. Pusat tidur terletak di otak yang mengatur fisiologi yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Pada saat tidur aktivitas saraf-saraf parasimpatis dipertinggi yang menyebabkan penyempitan pupil mata (miosis), perlambatan pernafasan dan sirkulasi darah (broncho kontriksi), menurunnya kegiatan jantung dan stimulasi aktivitas saluran cerna dimana peristaltik dan sekresi getah lambung diperkuat. Jadi pada saat tidur proses pengumpulan energi dan pemulihan tenaga dari organisma diperkuat. 

Insomnia dan Pengobatanya
          Insomnia atau tidak bisa tidur dapat disebabkan oleh faktor-fsktor seperti: batuk, rasa nyeri, sesak nafas, gangguan emosi, ketegangan, kecemasan ataupun depresi. Faktor penyebab inilah yang pertama-tama  harus dihilangkan dengan obat-obatan yang sesuai seperti: antitussiva, analgetika, obat-obat vasodilator, antidepresiva, sedativa atau transquilizer. Dianjurkan agar penderita mengembangkan kebiasaan tidur yang tetap dan teratur, hindari kopi dan alkohol untuk menahan kantuk.
          Bila penanganan diatas tidak berhasil, barulah digunakan obat-obat hipnotika dengan dosis serendah mungkin. Hipnotika ini efektif dalam mempercepat dan memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekwensi bangun dan memperbaiki kualitas tidur. Penggunaannya sebaiknya dihentikan segera setelah penderita dapat tidur normal untuk mencegah habituasi dan adiksi.

Persyaratan obat tidur yang ideal
          Obat tidur yang ideal harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain :
·         Menimbulkan suatu keadaan yang sama dengan dengan tidur normal
·         Jika terjadi kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain dari system saraf pusat  maupun organ lainnya kecil
·         Tidak tertimbun dalam tubuh
·         Tidak menyebabkan kerja ikutan yang negatif pada keesokan harinya
·         Tidak kehilangan khasiatnya pada penggunaan jangka panjang

Efek samping
    Kebanyakan obat tidur memberikan efek samping umum yang mirip dengan morfin, antara lain:
·         Depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi, contohnya flurazepam, kloralhidrat dan paraldehida
·         Tekanan darah menurun, contohnya golongan barbiturat
·         Hang-over, yaitu efek sisa pada keesokan harinya seperti mual, perasaan ringan di kepala dan pikiran kacau, contohnya golongan benzodiazepin dan barbiturat
·         Berakumulasi di jaringan lemak karena umumnya hipnotika bersifat lipofil
·         Lain-lain, seperti toleransi dan ketergantungan dan bahaya bunuh diri, contohnya glutetimid dan derivatnya, metaqualon dan derivatnya serta golongan barbiturat

Penggolongan
          Secara kimiawi, obat-obat hipnotika digolongkan sebagai berikut :
·         Golongan barbiturat, seperti fenobarbital, butobarbital, siklobarbital, heksobarbital dan lain-lain
·         Golongan benzodiazepin, seperti flurazepam, nitrazepam, flunitrazepam dan triazolam
·         Golongan alkohol dan aldehida, seperti kloralhidrat dan turunannya serta paraldehida
·         Golongan bromida, seperti garam bromida (kalium, natrium dan amonium) dan turunan urea seperti karbromal dan bromisoval
·         Golongan lain, seperti senyawa piperindindion (glutetimida) dan metaqualon

Obat generik, indikasi, kontra indikasi, dan efek samping
1.      Diazepam
Indikasi
Hipnotika dan sedativa, anti konvulsi, relaksasi otot dan anti ansietas (obat  epilepsi)
Kontra indikasi
-
Efek samping
-
Sediaan
Diazepam (generik) tablet 2 dan 5 mg

2.      Nitrazepam
Indikasi
lihat diazepam
Kontra indikasi
-
Efek samping
Pada penggunaan lama terjadi kumulasi dengan efek sisa (hang over), gangguan koordinasi dan melantur
Sediaan
-

3. Flunitrazepam
Indikasi
Hipnotik, sedativa, anestetik premedikasi operasi
Kontra indikasi
-
Efek samping
Amnesia  (hilang ingatan)
Sediaan


4. Kloral Hidrat
Indikasi
Hipnotika dan sedativa
Kontra indikasi
-
Efek samping
Merusak mukosa lambung usus dan ketagihan
Sediaan
Diazepam

5. Luminal
Indikasi
Sedativa, epilepsi, tetanus dan keracunan strikhnin
Kontra indikasi
-
Efek samping
Adiksi dan habituasi
Sediaan
Phenobarbital (Generik) tablet 30 dan  50 mg, Injeksi

Spesialite hipnotika dan sedativa.
NO
GENERIK
 DAGANG
 PABRIK
1
Nitazepam
Mogadon
Roche


Dumolid
Dumex
2
Estazolam
Esilgan
Takeda
3
Triazolam
Halcion
Up John


F.      ANESTETIKA
         
          Istilah anestesi dikemukakan pertama kali oleh O.W Holmes yang artinya tidak ada rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
·         Anestetika umum yaitu rasa sakit hilang disertai dengan kehilangan kesadaran
·         Anestetika lokal yaitu menghilangkan rasa sakit tanpa disertai hilang kesadaran

(1)     Anestetika umum
Pengertian
          Tindakan anestesi sudah dikenal sejak dahulu untuk mempermudah tindakan operasi. Orang-orang Mesir menggunakan canabis indica, dan pemukulan kepala dengan tongkat kayu untuk menghilangkan kesadaran seseorang.
          Tahun 1776 ditemukan anestetika gas yang pertama yaitu N2O, karena dirasa kurang efektif dicarilah zat yang lain. Tahun 1795 eter ditemukan sebagai anestesi inhalasi.
          Tehnik anestesi modern saat ini sudah merupakan praktek yang biasa dilakukan yaitu dengan memberikan beberapa anestetika dengan mekanisme kerja berbeda agar diperoleh keadaan anestetika operasi dengan resiko efek toksik yang minimal. Anestetika suntikan intra vena (i.v) biasa dipakai untuk taraf induksi kemudian dilanjutkan dengan anestetik inhalasi untuk mempertahankan keadaan tidak sadar. Obat khusus sering diberikan untuk menghasilkan relaksasi otot.
          Untuk prosedur tertentu mungkin dibutuhkan hipotensi terkendali, untuk itu digunakan labetolol dan gliseril trinitrat. Sedang beta bloker seperti adenosin, amiodaron dan verapamil bisa digunakan untuk mengendalikan aritmia selama anestesi. Dalam proses anestesi terdapat taraf-taraf  narkosa tertentu yaitu penekanan sistem saraf sentral secara bertingkat dan berturut-turut sebagai berikut:

Taraf -taraf narkose
          Anestetika umum dapat menekan susunan saraf sentral secara berurutan, yaitu :
·         Taraf analgesia, yaitu kesadaran dan rasa nyeri berkurang
·         Taraf eksitasi, yaitu kesadaran hilang seluruhnya dan terjadi kegelisahan
Kedua taraf ini disebut taraf induksi
·         Taraf anestesia, yaitu refleks mata hilang, nafas otomatis dan teratur seperti tidur serta otot-otot melemas (relaksasi)
·         Taraf pelumpuhan sum - sum tulang, yaitu kerja jantung dan pernafasan terhenti

          Tujuan narkosa adalah untuk mencapai taraf anastesia dengan sedikit mungkin kerja ikutan atau efek samping, oleh karena itu  taraf pertama sampai ketiga adalah yang paling penting sedangkan taraf ke empat harus dihindari. Pada proses recovery (sadar kembali) terjadi dengan urutan taraf  terbalik dari taraf  ketiga sampai kesatu.

Persyaratan anestetika umum
          Beberapa syarat penting yang harus dipenuhi oleh suatu anestetika umum adalah:
·         Berbau enak dan tidak merangsang selaput lendir
·         Mula kerja cepat tanpa efek samping
·         Sadar kembalinya tanpa kejang
·         Berkahasiat analgetik baik dengan melemaskan otot-otot seluruhnya
·         Tidak menambah pendarahan kapiler selama waktu pembedahan

          Guna mencapai narkosa umum yang cukup dalam dan lama digunakan suatu anestetika pokok dengan penambahan suatu obat pembantu, yang bertujuan untuk menghindarkan atau memperkecil kerja ikutan dan memperkuat salah satu khasiat anestetikanya, seperti:
·         Sebelum narkose (premedikasi), diberikan obat-obat sedatif (klorpromazin, morfin dan pethidin) guna meniadakan kegelisahan dan obat-obat parasimpatolitik (atropin) guna menekan sekresi ludah yang berlebihan
·         Selama narkose, diberikan obat-obat relaksasi otot (tubokurarin, galamin, dll)
·         Setelah narkose (post medikasi), diberikan obat-obat analgetika (methampyron, dll), sedativa (lminal, dll) dan anti emetika (klorpromazin HCl)

          Kadangkala dipakai kombinasi dari anestetika pokok dengan suatu anestetika lanjutan untuk memperpanjang lamanya narkose, seperti gas N2O dan siklopropan pada narkosa pokok serta barbital-barbital.

Efek samping
          Hampir semua anestetika inhalasi mengakibatkan sejumlah efek samping, yang terpenting diantaranya adalah :
·         Menekan pernafasan, paling kecil pada N2O, eter dan trikloretiken
·         Mengurangi kontraksi jantung, terutama halotan dan metoksifluran, yang paling ringan pada eter
·         Merusak hati, oleh karena sudah tidak digunakan lagi seperti senyawa klor  (kloroform)
·         Merusak ginjal, khususnya metoksifluran

Penggolongan
Menurut penggunaanya anestetika umum dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :
·         Anestetika injeksi, contohnya diazepam, barbital ultra short acting (tiopental dan heksobarbital), dll
·         Anestetika inhalasi, diberikan sebagai uap melalui saluran pernafasan. Contohnya eter, dll
         
Tehnik pemberian
Pemberian anestetika inhalasi dibagi menjadi 3 cara, yaitu:
·         Sistem terbuka, yaitu dengan penetesan langsung keatas kain kasa yang menutupi mulut atau hidung penderita, contohnya eter dan trikloretilen.
·         Sistem tertutup, yaitu dengan menggunakan alat khusus yang menyalurkan campuran gas dengan oksigen dimana sejumlah CO2 yang dikeluarkan dimasukan kembali (bertujuan memperdalam pernafasan dan mencegah berhentinya pernafasan atau apnea yang dapat terjadi bila diberikan dengan sistem terbuka). Karena pengawasan penggunaan anestetika lebih teliti maka cara ini banyak disukai, contohnya siklopropan, N2O dan halotan
·         Insuflasi gas, yaitu uap atau gas ditiupkan kedalam mulut,  batang tenggorokan atau trachea dengan memakai alat khusus seperti pada operasi amandel

Sediaan, indikasi, kontra indikasi dan efek samping
1. Dinitrogen Monoksida (N2O, gas gelak/gas tertawa)
Indikasi
Anestesi inhalasi
Kontra indikasi
-
Efek samping
-
Sediaan
-

2. Enfluran
Indikasi
Anestesi inhalasi (untuk pasien yang tidak tahan eter)
Kontra indikasi
-
Efek samping
Menekan pernafasan, gelisah dan mual
Sediaan
-

3. Halotan
Indikasi
Anestesi inhalasi
Kontra indikasi
-
Efek samping
Menekan pernafasan, aritmia dan hipotensi
Sediaan
-

4. Droperidol
Indikasi
Anestesi inhalasi
Kontra indikasi
-
Efek samping
-
Sediaan
-

5. Eter
Indikasi
Anestesi inhalasi
Kontra indikasi
-
Efek samping
Merangsang mukosa saluran  pernafasan
Sediaan
-

6. Ketamin Hidroklorida
Indikasi
Anestesi inhalasi
Kontra indikasi
-
Efek samping
Menekan pernafasan (dosis tinggi), halusinasi dan tekanan darah naik
Sediaan
-

7. Tiopental
Indikasi
Anestesi injeksi pada pembedahan kecil seperti di mulut
Kontra indikasi
Insufisiensi sirkulasi jantung dan hipertensi
Efek samping
Menekan  pernafasan
Sediaan
-

Spesialite obat - obat anestetika umum
NO
GENERIK
 DAGANG
 PABRIK
1
Diaethyl Aether
Aether Anaestheticus
Kimia Farma
2
Ketamin Hidroklorida
Ketalar
Parke Davis

(Ketamini Hydrochloridum)


3
Tiopental Natrium
Pentothal Sodium
Abbot

(Thiopentalum Natricum)


4
Enflurane
Athrane
Abbot
5
Halothanum
Fluothane
Zenecca


Tidak ada komentar:

Posting Komentar